Posted by: pariwaraku | July 4, 2011

PANTAI LASIANA KUPANG

Pantai Lasiana, Riwayatmu Kini

Posted on April 1, 2008 by eddymesakh

* Objek Wisata Potensial yang Terbengkalai

KETIKA masih kanak-kanak, akhir tahun 1970-an, saya masih sempat menikmati indahnya Pantai Lasiana, kampung halamanku. Pantai berjarak 11 kilometer ke arah timur Kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ini sejak lama menjadi tujuan wisata sebagian besar warga kota. Bahkan menarik bagi pelancong dari berbagai kota lain di NTT.

Awal hingga pertengahan tahun 1980-an, Pantai Lasiana banyak dikunjungi turis asing dari Jerman, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat. Hampir setiap minggu mereka berenang dan berselancar di teluk dengan garis pantai yang melengkung sepanjang kira-kira 1 kilometer. Atau berjemur di bawah terik matahari pada permukaan pasir putih.
Itulah masa keemasan Pantai Lasiana. Kala itu, lingkungannya juga masih sangat alami. Di sisi timur terdapat hutan mangrove (bakau) yang tumbuh rapat. Di dalamnya terdapat aneka satwa, mulai dari burung bangau di atas pepohonan maupun kepiting, ikan, udang, ular, dan sebagainya di dasar hutan. Demikian pula di ujung barat.
Mulai awal tahun 1990-an, perlahan-lahan hutan bakau semakin tipis dan akhirnya nyaris habis sama sekali di awal tahun 2000. Di sebelah timur dibabat oleh investor yang katanya ingin membangun hotel dan resort di situ. Sedangkan di sebelah barat digunduli ketika ada even duel meet moto-cross Indonesia-Australia pada tahun 1995.
Seiring menipisnya mangrove, karang laut di ujung timur dan barat Pantai Lasiana pun perlahan ikut mati hingga akhirnya nyaris musnah. Karang laut mati akibat tertimbun lumpur yang langsung masuk laut karena vegetasi yang tadinya berfungsi sebagai saringan sudah tiada. Belum lagi penggalian karang laut untuk dijadikan kapur dan penambangan pasir di tepi pantai sekitar tahun 1980-an.
Abrasi tak terhindarkan. Ratusan atau bahkan ribuan pohon kelapa yang sebelumnya memadati pinggiran pantai, perlahan habis karena tumbang dihantam ombak besar ketika badai. Terparah pada Desember 1990 hingga Januari 1991, dimana terjadi badai besar yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ombak setinggi lebih dari 5 atau 6 meter bahkan mampu merobohkan “Batu Nona”. Ini adalah batu karang setinggi kira-kira 15 meter yang bentuknya menyerupai perempuan sedang berdiri sambil melambaikan tangan. Kini si “Nona” telah “tertidur” dan semakin terbenam, tertimbun pasir.

Dalam masa sekitar 20 tahun, bibir pantai telah ‘merangsek’ hampir 500 meter ke daratan. Maka pantai yang indah dan sangat alami di era 70-80-an itu, kini menjadi pantai yang gersang seperti tak terawat.
Rusaknya vegetasi dan karang laut itu berbanding lurus dengan semakin sedikitnya hasil tangkapan nelayan setempat. Nelayan tradisional dengan peralatan tangkap “bagan”, yang dulunya mampu menghasilkan berton-ton ikan hanya dalam semalam, kini kehilangan penghasilan. Mendapat satu ember ikan teri (kira-kira 30 kg) saja sudah terhitung banyak. Ikan karang berwarna-warni, akar bahar, dan aneka jenis rumput laut juga tinggal sedikit.
Kendati sudah sehancur itu, Pantai Lasiana tetap menjadi tujuan wisata terfavorit bagi warga Kota Kupang hingga saat ini. Setiap minggu ribuan orang bertamasya ke pantai ini. Terutama pada hari Minggu dan hari libur nasional, pantai ini pasti dipenuhi wisatawan yang datang untuk mandi dan berenang atau menikmati sedapnya jagung bakar, pisang epeh, dan kelapa muda. Mungkin lantaran minimnya fasilitas rekreasi di “kota karang” nan gersang itu.
Namun karena itu pula, Pemerintah Kota Kupang berusaha menyelamatkan pantai itu dengan membangun tanggul-tanggul pemecah ombak. Sepanjang bibir pantai dibangun tanggul beton setinggi kira-kira setengah meter. Sementara di ujung barat dibangun tanggul pemecah ombak setinggi dua meter yang menjorok masuk ke laut, kira-kira sepanjang 800 meter.
Toh semua itu tak mengembalikan ‘wajah’ Pantai Lasiana seperti sediakala. Karena keunggulan pantai itu di era 1970-an hingga 1980-an terletak pada vegetasi dan indahnya karang di dasar laut.

Banyak fasilitas yang pernah dibangun pemerintah Provinsi NTT di sana. Seperti kolam renang, home stay (semacam cottage), dan sebagainya. Namun semuanya tak terurus dan dibiarkan terbengkalai hingga akhirnya rusak dengan sendirinya. Pembangunan fasilitas itu seperti hanya untuk menghabiskan anggaran saja. Tidak ada yang bisa dinikmati oleh wisatawan. Padahal anggaran yang dikucurkan mencapai ratusan juta atau mungkin miliaran rupiah.

Pantai yang dahulunya sangat indah itu terus mengalami kemunduran. Seandainya masyarakat bisa digerakkan untuk menumbuhkan kembali vegetasinya, keindahan pantai itu pasti bisa kembali seperti sediakala.
Peran pemda setempat juga sangat dibutuhkan. Misalnya mengajak investor untuk mengembangkan objek wisata potensial itu dengan berbagai tawaran insentif. Misalnya tidak ditarik pajak dalam tempo 25 tahun dan memberikan kemudahan dalam perizinan investasi. Sayangnya pemda setempat tak pernah mampu melakukannya. Potensi wisata itu tak pernah secara khusus dan serius “dijual” kepada investor.
Memang ada ‘sedikit’ persoalan pemilikan lahan dengan warga setempat. Namun sesungguhnya itu bukan crucial point-nya. Kegagalan mengembangkan potensi wisata itu lebih karena ketidakmampuan pengelolaan serta lemahnya mental entrepreneurship yang dimiliki pemerintah daerah, sejak masih menjadi wilayah Pemerintah Kabupaten Kupang, hingga masuk wilayah Pemerintah Kota Kupang.

Dalam kondisi yang sudah rusakpun, Pantai Lasiana masih menyimpan pesona. Permukaan pasirnya datar dengan kemiringan hanya sekitar 5-10 persen, sangat cocok untuk bermain sepakbola pantai. Pasirnya putih bersih dan bercahaya ketika tertimpa cahaya. Dasar lautnya berpasir, bukan lumpur, sebagaimana kebanyakan pantai di Pulau Timor. Sehingga airnya selalu jernih. Inilah yang membuat wisatawan paling suka mandi dan berenang di pantai ini. Menariknya, dari pantai ini, orang bisa menyaksikan sunrise sekaligus sunset. Jadi, indahnya matahari terbit dan terbenam bisa dinikmati sekaligus.
Di tepi pantai masih terdapat ratusan pohon “tuak” alias pohon lontar berbaris tegak. Pohon-pohon ini secara rutin disadap untuk diambil niranya atau disebut “iris tuak” oleh orang Kupang. Aktivitas iris tuak oleh warga suku Rote, ini menjadi suguhan menarik, karena sekaligus sebagai “atraksi” pariwisata tanpa perlu agenda khusus yang menelan biaya. Turis bisa menikmati sedapnya nira lontar atau “tuak” dalam istilah orang Rote, yang baru disadap. Rasanya manis, asam, dan agak sepat. Akh, sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Apalagi nira yang baru disadap, warnanya agak merah dan rasanya sangat manis, seperti air gula.
Hasil sadapan nira atau tuak itu dimasak di tungku tanah menggunakan periuk tanah. Hasilnya adalah gula lontar yang manis rasanya. Aktivitas ini bisa menjadi “jualan” menarik bagi turis asing.
Andai ada investor yang bisa diajak untuk mengembangkan Pantai Lasiana, akan ada banyak benefit yang bisa diperoleh. Di antaranya, pertama, warga Kota Kupang bisa menikmati tempat rekreasi yang representatif. Kedua, Kota Kupang memiliki sebuah lokasi pariwisata yang benar-benar bisa diandalkan sekaligus menambah pundi-pundi pendapatan asli daerah. Ketiga, tingkat perekonomian masyarakat setempat bisa ditingkatkan. Keempat, dengan vegetasi (hutan mangrove) yang sudah dipulihkan (mungkin 10 tahun ke depan), hasil tangkapan nelayan setempat bisa kembali meningkat. Tapi siapa yang bisa menjual potensi itu?(*)

http://eddymesakh.wordpress.com/2008/04/01/pantai-lasiana-riwayatmu-kini/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: