Posted by: pariwaraku | August 24, 2011

MARI JAGA JIWA KITA…

Konon, penyakit yang diderita oleh tubuh kita berawal dari gangguan pada psikis atau jiwa kita, sekecil apa pun itu. Namun, tentu tak seorang pun mau dikatakan mengalami gangguan jiwa ketika ia mengeluhkan tubuhnya yang sakit.

Menurut sejumlah penelitian yang dilakukan Direktorat Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan RI, anak-anak muda saat ini semakin cenderung mengalami gangguan jiwa. Faktor penyebab yang paling tinggi yakni narkoba, yang mencapai angka 44 persen. Disusul retardasi mental, disfungsi mental, dan disintegrasi mental.

Sementara hasil survey yang dilakukan oleh The Indonesian Psychiatris Epidemiologic Network pada tahun 2004, pasien gangguan jiwa dari kalangan orang dewasa mencapai 18,5% dari jumlah penduduk, artinya sekitar satu dari lima orang dewasa mengalami gangguan jiwa.

Gangguan jiwa sering dialami oleh situasi social yang terjadi di sekitar kita. Situasi yang menjadi pemicu itu dapat pula disebabkan kebijakan-kebijakan politik sebuah pemerintahan. Semisal, kenaikan harga BBM yang pasti membuat rakyat dilanda stress.

Menurut beberapa sumber, seseorang disebut sehat jiwa bila ia mampu beradaptasi secara konstruktif terhadap factor-faktor penyebab stress (stressor) yang mendera dirinya. Sementara kondisi sakit jiwa ditunjukkan oleh seseorang yang maladaktif atau beradaptasi secara destruktif terhadap stressor.

Kemampuan dan ketahanan dalam beradaptasi inilah yang semestinya menjadi pelajaran seumur hidup seorang manusia. Beberapa sumber di kalangan medis menyebutnya sebagai mekanisme koping. Bila mekanisme ini dijalankan secara konstruktif akan memberikan “kekebalan” pada jiwa seseorang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan beberapa cirri jiwa yang sehat, antara lain dapat menyesuaikan diri  secara konstruktif dam merasakan kepuasan dari usaha nyata. Selain itu, seseorang yang merasa lebih puas member daripada menerima juga dikatakan memiliki jiwa yang sehat.

WHO juga menyatakan, kehidupan antarmanusia yang tolong-menolong dan mengembangkan kasih saying juga menjadi cirri jiwa yang sehat. Yang juga tak kalah penting adalah keinginan untuk memaafkan dan menerima kekecewaan sebagai pelajaran yang berharga pada masa depan.

Sumber: Kompas, Rabu, 24 Agustus 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: